Susah memang menjadi orang yang berpendirian disiplin, memerlukan kekuatan yang sangat besar untuk memaksa diri agar dapat mengejar waktu dalam beraktivitas. Kalu tidak semua harapan dan rencana yang telah dicanangkan sebelumnya bakal hancur berkeping-keping. Yang tinggal hanya perasaan sedih, marah dan kesal bergabung menjadi satu menciptakan samudera kekecewaan yang tiada tara.
Hal ini yang saya rasakan ketika mengikuti Tes Bank Indonesia 2012 yang diadakan serentak di 8 Kota di seluruh Indonesia. Kebetulan karena domisili saya di Medan, saya ikuti tes bertahap 8 ini di kota Sisingamangaraja tersebut. Persiapan telah dilaksanakan berminggu-minggu lamannya , mulai latihan pengetahuan umum, tes Kreplin, pengetahuan khusus dan lain-lain yang dirasakan bakal keluar menjadi tes, di rekrutmen BI yang diadakan setiap dua tahun di Indonesia tersebut.
Rasa semangat bergelora di dalam jiwa sebelum menempuh peperangan, pagi-pagi sekali diri bangun sekitar jam 4.30 ketika orang-orang masih terlelap tidur. Kekurangan percaya diri menyebabkan diri sengaja menambah wawasan dengan membaca beberapa bahan yang tersedia di internet dengan harapan bahwa bahan tersebut bakal keluar di tes BI nanti. Kepalang bukan kepalang tak terasa jam sudah menujukan angka 6.30 yang menandakan bahwa diri harus segera mandi kalau tidak akan terlambat karena waktu yang tertera di pengumuman BI bahwa tes akan dilaksanakan pada pukul 7.30.
Bukannya terus bergegas, eh malah terus bermain-main, mendengarkan musik dan melakukan hal yang tidak perlu lainnya. Alhasil karena lama dalam mempersiapkan diri, berangkat ke tempat Tes Bank Indonesia yaitu terletak di Jalan Sakti Lubis No.7A Medan jadi terlambat. Bukannya membela diri akan tetapi memang perlu disadari bahwa lokasi tes sangatlah terpencil dan untuk orang yang jarang keliling kota Medan, saya rasa bakal susah menemukan tempat tersebut. Apalagi lokasi sebenarnya bukanlah di Jalan Sakti Lubis akan tetapi sebelahnya yaitu Jalan Busi. Jadi dapat dikatakan panitia tes lalai menjalankan tugasnya dengan benar.
Kembali ke saya, jadi akhirnya cerita saya terlambat datang ke Tempat lokasi yang memerlukan 2 kali naik angkot bagi saya untuk sampai ke tempat tersebut. Kesal tak berujung membuat saya berang tak karuan. sesampai di sana sebenarnya Tes belum di mulai akan tetapi seorang penjaga wanita yang judes dan killer melarang saya untuk ikut tes. Sebanrnay bukan saya seorang yang terlambat dan dimarahi , ada sekitar 7 teman lainnya yang senasib sepenanggungan dengan saya. memang butuh kesabaran yang besar menghadapi tipe orang penjaga seperti ini. Pada akhirnya sang "Mbak" penjaga menyuruh kami semua untuk pulang sambil marah-marah. "Uda deh kalian jangan ngeyel, saya tak akan berubah pikiran, ini sudah jam 8 lebih 5 menit, emangnya kalian di undang jam berapa, ini Tes BI, jadi hanya yang terbaik yang akan masuk, baru tes aja kalian sudah terlambat bagaimana nanti kalau sudah berkerja?". Huh,,gitu lah kira-kira ucapan kasar sang penjaga, pedas memang!
Sebelum kami berdelapan pergi meninggalkan tempat tes karena tidak dikasih masuk lagi, kami sempat bercakap-cakap terlebih dahulu satu sama lain. saya baru tahu kalau ada peserta yang jauh-jauh datang dari Aceh hanya untuk mengikuti tes ini. Kasihan memang kalau dilihat-lihat perjuangan dia. tadi pagi baru sampai, pinjam motor kawan langsung tancap ketempat tes yang lokasinya menurut dia sangat sulit untuk dicari. Mungkin itu yang membuat dia terlambat, ungkapnya. Dalam hati saya berkecamuk bahwa sebenarnay saya lebih beruntung dari pada saya dan perjuangan saya tidak lah seberat dia. Memang sih siapa yang tak ingin bekerja di Bank Indonesia, sebuah lembaga satu-satunya yang mempunyai hak untuk mencetak uang di Indonesia. akan tetapi perlu disadari untuk berkerja di tempat tersebut seseorang haruslah berkompeten dan disipilin, inilah yang saya tidak saya penuhi. Mungkin ini belum rejeki saya tapi saya tak pernah menyesal sama sekali meskipun ada kekecewaan sedikit dalam hati. Tih masih banyak kesempatan yang lain yang terbuka lebar setelah ini, mungkin ini Jawaban Tuhan dan rencana-Nya yang terbaik untuk kehidupan saya. Terima Kasih Tuhan atas segalanya. Amin









